Sabtu, 09 Juli 2011

TEORI ALFRED ADLER Kehidupan Alfred Adler (1870-1937) Anak kedua dari enam bersaudara, Alfred Adler lahir pada 7 February 1870 dan tumbuh di pinggiran kota Vienna. Adler hanya mengenal beberapa anak Yahudi dan lebih dipengaruhi oleh kultur Vienna daripada kultur Yahudi. Pada awal masa kanak-kanak Adler tidak bahagia. Hal itu ditandai dengan sakit, dan kesadaran terhadap kematian, ketidak bahagiaan, dan kecemburuan dari kakak tertuanya. Dia menderita rakhitis, yang membuatnya tidak dapat berlari dan bermain dengan anak lain. Pada umur 3 tahun, dia menyaksikan kematian adik bungsunya, pada umur 4 tahun, Adler sendiri sudah sangat dekat dengan kematian karena pneumonia. Adler pada awalnya dimanjakan oleh ibunya, hal itu hanya agar ia dapat menerima kehadiran adik laki-lakinya. Hubungan masa kana-kanaknya dengan orang tuanya menjadi sangat berbeda dengan Freud. Adler lebih dekat dengan ayahnya daripada ibunya. Dan dapat dimengerti jika kemudian ia menolak kompleks Oedipus milik Freud karena hal itu sangat asing bagi pengalaman masa kecilnya. Seiring pertumbuhannya dan meningkatnya kesehatannya, dia mulai menghabiskan banyak waktu di luar ruangan, terutama karena dia tidak bahagia di rumah. Meskipun kekakuan dan ketidak atraktifannya, dia bekerja keras untuk menjadi disukai oleh teman bermainnya dan menemukan perasaan penerimaan dan harga diri yang tidak dia temukan di rumah. Hasilnya, dia membangun kasih sayang yang besar bagi persahabatan dengan orang lain, sebuah karakteristik yang dia pegang seumur hidupnya. Dalam teori kepribadiannya, dia menekankan pada pentinganya hubungan anak dengan kelompok teman sebaya. Dia melihat peran anak lain, baik saudara maupun orang lain, adalah lebih penting bagi perkembangan kepribadian. Di sekolah dia tidak bahagia dan merupakan murid yang biasa-biasa saja. Adler khususnya tidak pandai dalam matematika, tapi lewat ketekunan dan kerja keras dia bangkit dari murid yang gagal, menjadi yang terbaik di kelasnya.TEORI ALFRED ADLER Kehidupan Alfred Adler (1870-1937) Anak kedua dari enam bersaudara, Alfred Adler lahir pada 7 February 1870 dan tumbuh di pinggiran kota Vienna. Adler hanya mengenal beberapa anak Yahudi dan lebih dipengaruhi oleh kultur Vienna daripada kultur Yahudi. Pada awal masa kanak-kanak Adler tidak bahagia. Hal itu ditandai dengan sakit, dan kesadaran terhadap kematian, ketidak bahagiaan, dan kecemburuan dari kakak tertuanya. Dia menderita rakhitis, yang membuatnya tidak dapat berlari dan bermain dengan anak lain. Pada umur 3 tahun, dia menyaksikan kematian adik bungsunya, pada umur 4 tahun, Adler sendiri sudah sangat dekat dengan kematian karena pneumonia. Adler pada awalnya dimanjakan oleh ibunya, hal itu hanya agar ia dapat menerima kehadiran adik laki-lakinya. Hubungan masa kana-kanaknya dengan orang tuanya menjadi sangat berbeda dengan Freud. Adler lebih dekat dengan ayahnya daripada ibunya. Dan dapat dimengerti jika kemudian ia menolak kompleks Oedipus milik Freud karena hal itu sangat asing bagi pengalaman masa kecilnya. Seiring pertumbuhannya dan meningkatnya kesehatannya, dia mulai menghabiskan banyak waktu di luar ruangan, terutama karena dia tidak bahagia di rumah. Meskipun kekakuan dan ketidak atraktifannya, dia bekerja keras untuk menjadi disukai oleh teman bermainnya dan menemukan perasaan penerimaan dan harga diri yang tidak dia temukan di rumah. Hasilnya, dia membangun kasih sayang yang besar bagi persahabatan dengan orang lain, sebuah karakteristik yang dia pegang seumur hidupnya. Dalam teori kepribadiannya, dia menekankan pada pentinganya hubungan anak dengan kelompok teman sebaya. Dia melihat peran anak lain, baik saudara maupun orang lain, adalah lebih penting bagi perkembangan kepribadian. Di sekolah dia tidak bahagia dan merupakan murid yang biasa-biasa saja. Adler khususnya tidak pandai dalam matematika, tapi lewat ketekunan dan kerja keras dia bangkit dari murid yang gagal, menjadi yang terbaik di kelasnya.TEORI ALFRED ADLER Kehidupan Alfred Adler (1870-1937) Anak kedua dari enam bersaudara, Alfred Adler lahir pada 7 February 1870 dan tumbuh di pinggiran kota Vienna. Adler hanya mengenal beberapa anak Yahudi dan lebih dipengaruhi oleh kultur Vienna daripada kultur Yahudi. Pada awal masa kanak-kanak Adler tidak bahagia. Hal itu ditandai dengan sakit, dan kesadaran terhadap kematian, ketidak bahagiaan, dan kecemburuan dari kakak tertuanya. Dia menderita rakhitis, yang membuatnya tidak dapat berlari dan bermain dengan anak lain. Pada umur 3 tahun, dia menyaksikan kematian adik bungsunya, pada umur 4 tahun, Adler sendiri sudah sangat dekat dengan kematian karena pneumonia. Adler pada awalnya dimanjakan oleh ibunya, hal itu hanya agar ia dapat menerima kehadiran adik laki-lakinya. Hubungan masa kana-kanaknya dengan orang tuanya menjadi sangat berbeda dengan Freud. Adler lebih dekat dengan ayahnya daripada ibunya. Dan dapat dimengerti jika kemudian ia menolak kompleks Oedipus milik Freud karena hal itu sangat asing bagi pengal


TEORI ALFRED ADLER
Kehidupan Alfred Adler (1870-1937)
Anak kedua dari enam bersaudara, Alfred Adler lahir pada 7 February 1870 dan tumbuh di pinggiran kota Vienna. Adler hanya mengenal beberapa anak Yahudi dan lebih dipengaruhi oleh kultur Vienna daripada kultur Yahudi.
Pada awal masa kanak-kanak Adler  tidak bahagia. Hal itu ditandai dengan sakit, dan kesadaran terhadap kematian, ketidak bahagiaan, dan kecemburuan dari kakak tertuanya. Dia menderita rakhitis, yang membuatnya tidak dapat berlari dan bermain dengan anak lain. Pada umur 3 tahun, dia menyaksikan kematian adik bungsunya, pada umur 4 tahun, Adler sendiri sudah sangat dekat dengan kematian karena pneumonia.
Adler pada awalnya dimanjakan oleh ibunya, hal itu hanya agar ia dapat menerima kehadiran adik laki-lakinya. Hubungan masa kana-kanaknya dengan orang tuanya menjadi sangat berbeda dengan Freud. Adler lebih dekat dengan ayahnya daripada ibunya. Dan dapat dimengerti jika kemudian ia menolak kompleks Oedipus milik Freud karena hal itu sangat asing bagi pengalaman masa kecilnya.
Seiring pertumbuhannya dan meningkatnya kesehatannya, dia mulai menghabiskan banyak waktu di luar ruangan, terutama karena dia tidak bahagia di rumah. Meskipun kekakuan dan ketidak atraktifannya, dia bekerja keras untuk menjadi disukai oleh teman bermainnya dan menemukan perasaan penerimaan dan harga diri yang tidak dia temukan di rumah. Hasilnya, dia membangun kasih sayang yang besar bagi persahabatan dengan orang lain, sebuah karakteristik yang dia pegang seumur hidupnya. Dalam teori kepribadiannya, dia menekankan pada pentinganya hubungan anak dengan kelompok teman sebaya. Dia melihat peran anak lain, baik saudara maupun orang lain, adalah lebih penting bagi perkembangan kepribadian.
Di sekolah dia tidak bahagia dan merupakan murid yang biasa-biasa saja. Adler khususnya tidak pandai dalam matematika, tapi lewat ketekunan dan kerja keras dia bangkit dari murid yang gagal, menjadi yang terbaik di kelasnya.

Tahap Perkembangan menurut Alfred Adler


Tahap Perkembangan menurut Alfred Adler
Alfred Adler, seorang psikoanalis menyatakan bahwa perasaan inferior menyebabkan seseorang mau berusaha dan belajar menjadi lebih baik. Berdasar penelitian yang berpusat pada orang-orang yang mengalami cacat tubuh (difable), Adler menyatakan jika seseorang mengalami kekurangan pada suatu hal, dia akan belajar dan melatih hal tersebut hingga mampu mengatasi kekurangannnya.
Selain itu, Adler juga menyatakan bahwa setiap orang berada pada kondisi inferior yang sifatnya berulang. Perasaan inferior ini akan muncul dari berbagai sisi dan aspek.
Tahap perkembangan anak bisa jadi merupakan sebuah gambaran yang mudah dan tepat. Seorang anak yang belum bisa berjalan, akan berusaha untuk bisa berjalan. Setelah bisa berjalan, dia akan berusaha untuk bisa berlari.
Peran orangtua menurut Adler sangat penting karena orangtualah yang menentukan keberhasilan atau kegagalan anak. Bila orangtua menetapkan standar keberhasilan terlampau tinggi dan sulit untuk dicapai, anak bisa saja akan merasa sulit dan menyerah. Namun, apabila orangtua menetapkan standar terlampau rendah, anak akan merasa mudah dan gampang puas.
Penetapan standar ini bergantung pada tiap orangtua dan norma yang berlaku. Bisa saja standar yang ditetapkan di perkotaan dan di desa akan berbeda. sehingga orangtua perlu bijak dalam menetapkannya.
Adler mengembangkan yang disebut sebagai Individual Psychology. Banyak konsep Freud yang diikutinya, antara lain mengenai level kesadaran. Namun Adler menekankan pada faktor kesadaran/unsur ego . Teorinya banyak menyentuh unsur lingkungan sosial sehingga ia juga dikenal sebagai seorang psikoanalis sosial yang pertama. Sebagai seorang pengikut Freud, Adler memilih jalan berbeda dari Freud dan menganggap teori Freud sangat menekankan unsur seksual sehingga kurang realistis.
  • Adler di Wina dari keluarga pedagang yang berada. Sejak kecil ia sakit-sakitan dan hal ini menumbukan cita-cita untuk menjadi seorang dokter. Pada tahun 1895 ia lulus kedokteran dari Universitas Wina, lalu berpraktek sebagai dokter mata sebelum akhirnya menekuni bidang psikiatri dan menjadi psikiater.
  • Konsep utama Adler adalah organ inferiority. Berangkat dari teorinya tentang adanya inferiority karena kekurangan fisik yang berusaha diatasi manusia, ia memperluas teorinya dengan menyatakan bahwa perasaan inferior adalah universal. Setiap manusia pasti punya perasaan inferior karena kekurangannya dan berusaha melakukan kompensasi atas perasaan ini. Kompensasi ini bisa dalam bentuk menyesuaikan diri ataupun membentuk pertahanan yang memungkinkannya mengatasi kelemahan tsb.
  • Selanjutnya, Adler juga membahas tentang striving for superiority, yaitu dorongan untuk mengatasi inferiority dengan mencapai keunggulan. Dorongan ini sifatnya bawaan dan merupakan daya penggerak yang kuat bagi individu sepanjang hidupnya. Adanya striving for superiority menyebabkan manusia selalu berkembang ke arah kesempurnaan. Teorinya ini yang membuat Adler memiliki pandangn lebih optimis dan positif terhadap manusia serta lebih berorientasi ke masa depan dibandingkan Freud yang lebih berorientasi ke masa lalu.

Pengaruh urutan kelahiran atas perilaku dan kepribadian.


Pengaruh urutan kelahiran atas perilaku dan kepribadian.
Anak sulung, kedua, atau bungsu hanyalah sebuah julukan dalam suatu keluarga. Yang jelas, dalam ilmu psikologi disebutkan, urutan kelahiran mempunyai dampak dari berbagai aspek pada tabiat seorang anak. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Alfred Adler yang dikenal sebagai salah satu Tokoh Psikoanalis.

Adler menganggap urutan kelahiran dalam keluarga mempunyai peranan penting dalam membentuk kepribadian seseorang, urutan-urutan tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan dalam menginterpretasikan setiap pengalaman yang didapat. Adler menggambarkan anak sulung mendapat perhatian yang utuh dari orangtuanya, sampai perhatian itu terbagi saat ia mendapatkan adiknya. Perhatian dari orang tua cenderung membuat anak memiliki perasaan mendalam untuk menjadi superior atau kuat, kecemasan tinggi dan terlalu dilindungi. Saat kelahiran adiknya, menimbulkan dampak traumatik kepada anak sulung yang turun tahta sebagai anak tunggal. Peristiwa ini mengubah situasi dan mengubah cara pandangnya terhadap dunia sekitarnya. Pembentukan kepribadian setelah kelahiran adiknya dapat membentuk tanggung jawab kepada orang lain, melindungi orang lain, atau bahkan merasa sebaliknya, ia dapat menjadi merasa tidak aman dan miskin interest sosial.

Bila kelahiran tersebut berjarak 3 tahun atau lebih, maka ia akan marah karena ia harus mengakui adiknya. Beberapa faktor yang telah dimiliki oleh pengalaman sebelumnya bergabung sebagai interpretasi pengalamannya, bila persiapan dan interest sosialnya baik maka ia akan mengembangkan sikap kooperatif dan ia akan memakai gaya kooperatif itu kepada adiknya.

Bila kelahiran adiknya sebelum dia berusia 3 tahun maka kemarahan dan kebencian itu semakin besar dan tidak disadari, sikap itu menjadi resisten dan sulit diubah pada orang dewasa.

Anak kedua biasanya memulai hidup dalam situasi yang lebih baik untuk
mengembangkan kerjasama dan minat sosial. Pada tahap tertentu, kepribadian anak dibentuk melalui pengamatannya terhadap sikap kakanya. Jika sikap kakaknya penuh kemarahan dan kebencian, anak kedua mungkin menjadi sangat kompetitif, atau menjadi penakut dan sangat kecil hati. Umumnya anak kedua tidak mengembangkan kedua arah itu, tetapi masak dengan dorongan kompetisi yang baik, memiliki keinginan yang sehat untuk mengalahkan kakaknya. Jika dia banyak mengalami keberhasilan, anak akan mengembangkan sikap revolusioner dan merasa bahwa otoritas itu dapat dikalahkan.

Anak bungsu, seringkali dimanja, sehingga beresiko tinggi menjadi anak bermasalah. mudah terdorong pada perasaan inferior yang kuat dan tidak mampu berdiri sendiri. Namun demikian ia mempunyai banyak keuntungan, ia termotivasi untuk selalu mengungguli kakak-kakaknya dan menjadi anak yang ambisius.

Anak tunggal mempunyai posisi unik dalam berkompetisi, tidak dengan saudara-saudaranya melainkan dengan kedua orangtuanya. Mereka sering mengembangkan perasaan superior berlebihan, konsep diri rendah dan perasaan bahwa dunia adalah tempat yang berbahaya bila kedua orangtuanya terlalu menjaga kesehatannya.
Adler menyatakan bahwa anak tunggal mungkin kurang baik mengembangkan kerjasama dan minat sosial, memiliki sifat parasit, dan mengharapkan perhatian untuk melindungi dan memanjakannya.

Dengan kata lain, posisi anak di dalam keluarga berdampak pada kepribadian, perilaku, cara belajar, dan akhirnya pada kemampuannya dalam mencari nafkah. Berikut ulasan ahli mengenai anak berdasar urut-urutan kelahiran.


* Sulung: cenderung lebih teliti, mempunyai ambisi, dan agresif dibandingkan adik-adiknya. Anak pertama cenderung mendapatkan dan menyelesaikan pendidikan yang lebih tinggi seperti dokter, insinyur, atau ahli hukum. Setiap astronot yang berangkat ke luar angkasa pada umumnya merupakan anak sulung atau anak laki-laki pertama di dalam keluarganya.

* Anak Tengah: anak tengah lebih mudah bergaul dan memiliki rasa setia kawan yang tinggi. Karena kurang diperhatikan di dalam keluarga, mereka cenderung belajar, menjalin hubungan, dan mencari dukungan dari teman-teman seusianya. Oleh karena itu, mereka cenderung memiliki kemampuan dalam bersosialisasi. Anak tengah sering menjadi mediator dan pencinta damai

* Bungsu: anak bungsu cenderung paling kreatif dan biasanya menarik. Karena mereka sering dianggap sebagai anak bawang, si Bungsu cenderung untuk selalu ingin memperoleh perlakuan yang sama. Biasanya mereka sukses dalam bidang jurnalistik, periklanan, penjualan, dan segala yang berhubungan dengan seni.

* Anak Tunggal: si anak semata wayang memiliki karakteristik yang hampir mirip dengan anak pertama dan sering merasa terbebani dengan harapan yang tinggi dari orangtua mereka terhadap diri mereka. Penelitian memperlihatkan, mereka lebih percaya diri, supel, dan memiliki imajinasi yang tinggi. Mereka juga mengharapkan banyak dari orang lain, tidak senang dikritik, kadang tidak fleksibel, serta perfeksionis.

* Anak Kembar: karena status mereka sama dan diperlakukan sama, anak kembar akan cenderung berpenampilan sama. Dalam hal-hal tertentu, mereka yang lahir lebih dahulu cenderung memiliki kepribadian yang mirip dengan anak sulung dan mereka yang lahir belakangan cenderung memiliki kepribadian yang mirip dengan anak bungsu.

Meskipun urutan kelahiran di atas didapatkan dari penelitian ahli, tentu saja hal tersebut merupakan gejala umum. Teori tentang urutan kelahiran anak bisa saja hanya menjadi sebuah teori, dan tidak berpengaruh pada orang-orang tertentu.

Rabu, 06 Juli 2011

Bimbingan dan Konseling Sebagai Profesi


Bimbingan dan Konseling Sebagai Profesi

Oleh :
Zulkifli Paputungan
Yurniati Bulota
A. PROFESI
1. Pengertian
Istilah ‘profesi” memang selalu menyangkut pkerjaan, tetapi tidak semua pekerjaan dapat disebut profesi. Untuk mecegah kesimpang-siuran tentang arti profesi dan hal-hal yang bersangkut paut dengan itu, berikut ini dikemukakan beberapa istilah dan ciri-ciri profesi.
“Profesi” adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian dari para petugasnya. Artinya, pekerjaan yang disebut profesi, tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus terlebih dahulu untuk melakukan pekerjaan itu.
2. Ciri-ciri Profesi
Suatu jabatan atau pekerjaan disebut profesi apabila ia memiliki syarat-syarat atau ciri-ciri tertentu. Sejumlah ahli seperti McCully, 1963; Tolbert, 1972; dan Nugent, 1981) telah merumuskan syarat-syarat atau ciri-ciri dari suatu profesi. Dari rumusan-rumusan yang mereka kemukakan, dapat disimpulkan syarat-syarat atau ciri-ciri utama dari suatu profesi sebagai berikut:
  1. Suatu profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang memiliki fungsi dan kebermaknaan sosial yang sangat menentukan.
  2. Untuk mewujudkan fungsi tersebut pada butir di atas para anggotanya (petugasnya dalam pekerjaan itu) harus menampilkan pelayanan yang khusus yang didasarkan atas teknik-teknik intelektual, dan ketrampilan-ketrampilan tertentu yang unik.
  3. Penampilan pelayanan tersebut bukan hanya dilakukan secara rutin saja, melainkan bersifat pemecahan masalah atau penanganan situasi kritis yang menuntut pemecahan dengan menggunakan teori dan metode ilmiah.
  4. Pada anggotanya memiliki kerangka ilmu yang sama yaitu didasarkan atas ilmu yang jelas, sistematis, dan eksplisit; bukan hanya didasarkan atas akal sehat (common sense) belaka.
  5. Untuk dapat menguasai kerangka ilmu itu diperlukan pendidikan dan latihan dalam jangka waktu yang cukup lama.
  6. Para anggotanya secara tegas dituntut memiliki kompetensi minimum melalui prosedur seleksi, pendidikan dan latihan, serta lisensi atau sertifikasi.
  7. Dalam menyelenggarakan pelayanan kepada pihan yanng dilayani, para anggota memiliki kebebasan dan tanggung jawab pribadi dalam memberikan pendapat dan pertimbangan serta membuat keputusan tentang apa yang akan dilakukan berkenaan dengan penyelenggaraan pelayanan profesional yang dimaksud.
  8. Para anggotanya, baik perorangan maupun kelompok, lebih mementingkan pelayanan yang bersifat sosial daripada pelayanan yang mengejar keuntungan yang bersifat ekonomi.
  9. Standar tingkah laku bagi anggotanya dirumuskan secara tersurat (eksplisit) melalui kode etik yang benar-benar diterapkan; setiap pelanggaran atas kode etik dapat dikenakan sanksi tertentu.
  10. Selama berada dalam pekerjaan itu, para anggotanya terus-menerus berusaha menyegarkan dan meningkatkan kompetensinya dengan jalan mengikuti secara cermat literatur dalam bidang pekerjaan itu, menyelenggarakan dan memahami hasil-hasil riset, serta berperan serta secara aktif dalam pertemuan-pertemuan sesama anggota.
  1. B. PROFESI BIMBINGAN DAN KONSELING
Diyakini bahwa pelayanan bimbingan dan konseling adalah suatu profesi yang dapat memenuhi ciri-ciri dan persyaratan tersebut. Namun, berhubung dengan perkembangannya yang masih tergolong baru, terutama di Indonesia, dewasa ini pelayanan bimbingan dan konseling belum sepenuhnya mencapai persyaratan yang diharapkan. Sebagai profesi yang handal, bimbingan dan konseling masih perlu dikembangkan, bahkan diperjuangkan.
Pengembangan profesi bimbingan dan konseling antara lain melalui (a) standardisasi untuk kerja profesional konselor, (b) standardisasi penyiapan konselor, (c) akreditasi, (d) stratifikasi dan lisensi, dan (e) pengembangan organisasi profesi.
  1. 1. Standardisasi Unjuk Kerja Profesional Konselor
Masih banyak orang yang memandang bahwa pekerjaan dan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa pun juga, asalkan mampu berkomunikasi dan berwawancara. Anggapan lain mengatakan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling semata-mata diarahkan kepada pemberian bantuan berkenaan dengan upaya pemecahan masalah dalam arti yang sempit saja. Ini jelas merupakan anggapan yang keliru. Sebagaimana telah diuraikan pada Bab VI, pelayanan bimbingan dan konseling tidak semata-mata diarahkan kepada pemecahan masalah saja, tetapi mencakup berbagai jenis layanan dan kegiatan yang mengacu pada terwujudnya fungsi-fungsi yang luas. Berbagai jenis bantuan dan kegiatan menuntut adanyaunjuk kerja profesional tertentu. Di Indonesia memang belum ada rumusan tentang unjuk kerja profesional konselor yang standar. Usaha untuk merintis terwujudnya rumusan tentang unjuk kerja itu telah dilakukan oleh Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) pada Konvensi Nasional VII IPBI di Denpasar, Bali (1989). Upaya ini lebih dikonkretkan lagi pada Konvensi Nasional VIII di Padang (1991). Rumusan unjuk kerja yang pernah disampaikan dan dibicarakan dalam konvensi IPBI di Padang itu dapat dilihat pada lampiran.
Walaupun rumusan butir-butir (sebanyak 225 butir) itu tampak sudah terinci, namun pengkajian lebih lanjut masih amat perlu dilakukan untuk menguji apakah butir-butir tersebut memang sudah tepat sesuai dengan kebutuhan lapangan, serta cukup praktis dan memberikan arah kepada para konselor bagi pelaksanaan layanan terhadap klien. Hasil pengkajian itu kemungkinan besar akan mengubah, menambah merinci rumusan-rumusan yang sudah ada itu.
  1. 2. Standardisasi Penyiapan Konselor
Tujuan penyiapan konselor ialah agar para (calon) konselor memiliki wawasan dan menguasai serta dapat melaksanakan dengan sebaik-baiknya materi dan ketrampian yang terkandung di dalam butir-butir rumusan unjuk kerja. Penyiapan konselor itu dilakukan melalui program pendidikan prajabatan, program penyetaraan, ataupun pendidikan dalam jabatan (seperti penataran). Khusus tentang penyiapan konselor melalui program pendidikan dalam jabatan, waktunya cukup lama, dimulai dari seleksi dan penerimaan calon peserta didik yang akan mengikuti program sampai para lulusannya diwisuda. Program pendidikan prajabatn konselor adalah jenjang pendidikan tinggi.
Seleksi/Penerimaan Peserta didik
Seleksi atau pemilihan calon peserta didik merupakan tahap awal dalam proses penyiapan konselor. Kegiatan ini memegang peranan yang amat penting dan menentukan dalam upaya pemerolehan calon konselor yang diharapkan. Bukanlah bibit yang baik akan menghasilkan buah yang baik pula? Komisi tugas, standar, dan kualifikasi konselor Amerika Serikat (Dalam Mortensen & Schmuller, 1976) mengemukakan syarat-syarat pribadi yang harus dimiliki oleh konselor sebagai berikut: Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas dalam bidang bimbingan dan konseling, yaitu unjuk kerja konselor secara baik (calon) konselor dituntut memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang memadai. Pengetahuan, ketrampilan, dan sikap tersebut diperoleh melalui pendidikankhusus. Untuk pelayanan profesional bimbingan dan konseling yang didasarkan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu, maka pengetahuan, sikap dan ketrampilan konselor yang (akan) ditugaskan pada sekolah tertentu itu perlu disesuiakan dengan berbagai tuntutan dan kondisi sasaran layanan, termasuk umur, tingkat pendidikan, dan tahap perkembangan anak.
  1. C. HAL YANG PERLU DI PERHATIKAN DALAM PROFESI BIMBINGAN DAN KONSELING
  2. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani
    1. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, individualitas, kebebasan memilih, dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual, bermoral, sosial, individual, dan berpotensi; (b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya; (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya; (d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya; (e) toleran terhadap permsalahan konseli, dan (f) bersikap demokratis
  3. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling.
  4. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling; (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya; (c) mengimplementasikan prinsipprinsip pendidikan dan proses pembelajaran; (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan
  5. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal, non formal, dan informal; (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum, kejuruan, keagamaan, dan khusus; dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini, dasar dan menengah.
  6. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian; (b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling; (c) melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling; (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling.
  7. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling; (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling; (c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling; (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja; (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling; dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling.
  1. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan
    1. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli; (b) menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan; (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling; dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling.
    2. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling; (c) memfasilitasi perkembangan, akademik, karier, personal, dan sosial konseli; dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling.
    3. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil, proses dan program bimbingan dan konseling; (b) melakukan penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling; (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait; (d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling.
    4. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar, tujuan, organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru, wali kelas, pimpinan sekolah/madrasah, komite sekolah/madrasah di tempat bekerja; (b) mengkomunikasikan dasar, tujuan, dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja; dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru, orang tua, tenaga administrasi).
    5. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar, tujuan, dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri.dan profesi; (b) menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling; dan (c) aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri.dan profesi.
    6. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspek-aspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain; (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling; (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain; dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan.
DAFTAR BACAAN
Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang.
Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys.
ABKIN. 2007. Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal